Demam Lassa, Ditularkan oleh Hasil Ekskresi Tikus

Demam lassa merupakan salah satu penyakit zoonosis yang dapat menginfeksi manusia. Penularannya bisa berasal oleh kotoran dan air seni tikus yang terinfeksi virus ini. Lebih jelasnya, simak ulasan berikut ya Sahabat Sehat!

Apa itu demam lassa?

Demam lassa atau yang disebut demam hemoragik (berdarah) lassa adalah hemoragik virus yang akut dan seringkali demam yang fatal disebabkan oleh virus lassa dari golongan arbovirus, genus arenavirus dan family arenaviridae. Virus lassa menular ke manusia melalui kontak dengan makanan atau barang rumah tangga yang telah terkontaminasi oleh reservior zoonosis yang biasanya merupakan tikus multimammate yang terinfeksi.

demam lassa ditularkan tikus
Foto: Pixabay.com

Nah, Sahabat Sehat demam lassa pertama kali terjadi di Afrika Barat pada tahun 1969 dan Afrika Barat menjadi daerah endemik dari demam lassa. Ada sekitar 300.000-500.000 kasus yang menyebabkan kematian ada 5.000 kematian per tahunnya.

Tanda dan Gejala bila terinfeksi

Timbulnya gejala biasanya 7-12 hari setelah paparan. Namun 80% dari penderita mengalami sedikit gejala maupun tidak sama sekali mengalami gejala. Gejala ringan demam lassa yaitu demam, kelelahan, dan sakit kepala. Syok, kejang, tremor, disorientasi, dan koma mungkin saja terjadi pada tahapan gejala dikemudian harinya. Sekitar 25% dari penderita juga mengalami ketulian dan pendengaran baru pulih setelah 1-3 bulan. Rambut rontok dan gangguan cara berjalan dapat terjadi selama pemulihan.

demam lassa
Foto: Freepik.com

Sebanyak 20% penderita lainnya mengalami gejala yang lebih parah seperti masalah pernapasan, nyeri dada, gusu berdarah, muntah dan tekanan darah rendah dapat terjadi. Ibu hamil yang terinfeksi virus lassa berisiko 95% mengalami keguguran. Sekitar 1% dari semua infeksi virus lassa mengakibatkan kematian dan biasanya terjadi 14 hari dari awal terinfeksi.

Cara pencegahannya

Cara pencegahannya yaitu dengan menjaga rumah dan lingkungan tetap bersih, menghindari lingkungan yang banyak tikus, sediaan tempat pembuatan sampah dan sanitasi yang memadai, menjaga makanan dengan menyimpan pada wadah tertutup, serta membasmi tikus dengan memasang perangkap dan racun tikus. Bila kamu perawat yang merawat pasien dengan demam lassa, kamu dapat menggunakan pakaian pelindung dan sarung tangan untuk menghindari kontak dengan sekresi pasien.

Kasus infeksi demam lassa sampai saat ini belum ada di Indonesia. Namun patut diwaspadai sebab pada tahun 2023, beberapa daerah di Nigeria terjadi penambahan kasus demam lassa dengan total 206 kasus. Bila Sahabat Sehat akan mengunjungi negara dibagian Afrika Barat, kamu bisa menerapkan salah satu cara pencegahannya seperti yang telah tertulis diatas untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Arfiansyah, T. R. 2022. Demam Lassa Mewabah di Nigeria, Mungkinkah Masuk ke Indonesia?. https://www.kompas.com/tren/read/2022/08/18/190500665/demam-lassa-mewabah-di-nigeria-mungkinkah-masuk-ke-indonesia-?page=all. Diakses 28 Mei 2023.

Kementerian Kesehatan. 2022. Demam Lassa. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/penyakit-virus/demam-lassa#:~:text=Demam%20Lassa%20adalah%20penyakit%20hemoragik,umumnya%20dikenal%20sebagai%20tikus%20multimammate. Diakses 27 Mei 2023.

Maria, R. 2023. Melonjak, Nigeria Catat 20 Kasus Baru Demam Lassa yang Diakibatkan Hewan Pengerat. https://www.google.com/amp/s/www.sinarharapan.co/internasional/amp/3858670267/melonjak-nigeria-catat-20-kasus-baru-demam-lassa-yang-diakibatkan-hewan-pengerat. Diakses 28 Mei 2023.

Rahul, B. 2020. Lassa Fever: A Comprehensive Review. https://www.semanticscholar.org/paper/Lassa-Fever%3A-A-Comprehensive-Review-Rahul/96faba7987809b400cc3245881d704ea0f784d8c. Diakses 28 Mei 2023.

Tewogbola, P., & Aung, N. 2020. Lassa Fever: History, Causes, Effects, and Reduction Strategies. https://www.researchgate.net/publication/343854581_Lassa_fever_History_causes_effects_and_reduction_strategies. Diakses 28 Mei 2023.

About the Author

Neta Mustikasari

Mahasiswa ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Garut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *