Duta Kesehatan

Penderita HIV/AIDS Terus Meningkat di Palopo, Gagal Pahamnya Masyarakat atau Sosialiasi yang Masih Kurang?

PALOPO — Hari AIDS Sedunia jatuh pada 1 Desember 2018 tepat hari Sabtu ini. Data nasional, Sulsel masuk peringkat 10 besar penderita HIV dan AIDS. Sedangkan data Dinas Kesehatan Sulsel, pada tahun 2015 penderita HIV di Sulsel sebanyak 882 orang, AIDS 305 orang, kemudian tahun 2016 kasus HIV 1030 orang dan AIDS 578 orang, untuk 2017 HIV sebanyak 1560 orang dan AIDS 599 orang, sedangkan tahun 2018 (Juni) HIV 547 dan AIDS 49 orang.

Kabid Pencegahan Penyakit Dinkes Sulsel, dr Nurul AR seperti dikutip Tribun Timur mengatakan bahwa dari 24 kabupaten-kota di Sulsel, kota Makassar yang masuk di peringkat pertama menyusul kota Palopo, dan kabupaten Sidrap.

Di Kota Palopo sendiri, jumlah kasus HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi peningkatannya tidak signifikan.

Dikonfirmasi oleh Kasi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Palopo, dr San Ashari SKM MKes, Sabtu (1/12) mengatakan, secara keseluruhan tahun 2017 terdapat 72 kasus HIV AIDS. Tetapi data tersebut, kata dia, masih harus dirincikan lagi. Ada yang sudah terinveksi HIV tetapi belum sampai AIDS dan ada juga yang sudah sampai terjangkit AIDS (Stadium 1).

“Tahun 2018 hingga bulan November 2018 ada 66 kasus HIV/AIDS, jumlah kasus HIV AIDS terus meningkat, tetapi kasus kematian akibat HIV/AIDS  di kota Palopo masih cukup kecil dibandingkan dengan penyakit-penyakit menular lainnya. Untuk penyakit mematikan masih didominasi oleh penyakit tidak menular,” ucap San Ashari.

Pemkot Palopo melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) termasuk Dinas Kesehatan Kota Palopo aktif melakukan penyuluhan kepada anak sekolah yang dilakukan oleh Puskesmas se Kota Palopo terkait masalah stigma tentang penyakit HIV/AIDS.

Meskipun menular, stigma buruk tentang HIV ini masih terus menghantui masyarakat, karena pemahaman yang keliru, bukan penyakitnya yang dijauhi tetapi ODHA-nya atau pengidapnya, padahal HIV/AIDS tidak akan menular jika kita bersentuhan langsung, penularannya paling lazim yakni melalui jarum suntik (darah), hubungan seks (cairan sperma/vagina), dan ibu ke bayi (asi).

“Upaya massif telah dilakukan Dinas Kesehatan terkait masalah stigma tentang HIV/AIDS di seluruh wilayah kota Palopo dengan cara intens melakukan penyuluhan dan edukasi, baik itu di tingkat sekolah maupun di tingkat kelurahan,” terangnya.

Di bagian akhir, melalui Kasi P2M, San Ashari, Kepala Dinas Kesehatan kota Palopo Dr dr Ishak Iskandar MKes berharap dengan peringatan Hari AIDS  Sedunia, pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS bisa diketahui sejak dini, sehingga anak-anak dapat mencegah sejak dini perilaku menyimpang yang bisa menjadi penyebab penularan virus HIV/AIDS.

Ia juga meminta agar orang-orang dengan resiko tinggi terhadap penyakit HIV/AIDS mau memeriksakan Status HIV-nya sehingga bisa mengurangi resiko terjadinya penularan ke orang lain, ajaknya.(Icc/**)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top