Duta Ekonomi

Dua Caleg Beda ‘Genre’ Bahas Kemandirian UMKM di Bincang Iccang

PALOPO — Calon anggota DPR RI asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk Dapil Sulsel III, Zulchaidir B Firly Ramly didaulat menjadi narasumber di acara talkshow Bincang Iccang, Senin 18 Februari 2019 di Rumah Kopi Sweetness 45, Palopo.

Bersama Caleg PDIP Perjuangan Edy H Maiseng keduanya membahas soal “Kemandirian UMKM dan Tantangannya  Menghadapi Revolusi Industri 4.0”

Bang Zul sapaan akrab Zulchaidir mengatakan ada 5 hal yang harus didorong untuk membuat bangsa ini mau terjun sebagai enterpreneur. Yakni, motivasi, edukasi, literasi, training dan networking.

Bang Zul juga mengungkap, jika peran pemerintah masih cukup penting untuk mendorong kemandirian UMKM, karena pertumbuhan UMKM yang pesat harus banyak dibantu pemerintah baik lewat dukungan regulasi maupun struktur permodalan.

“Mindset kita harus diubah, dari mental pekerja menjadi pebisnis, bukan pedagang, Motivasi, Inspirasi dan Edukasi syarat mutlak untuk perubahan pola pikir itu, Balai Latihan Kerja yang ada lebih banyak untuk mencetak tenaga kerja dibanding untuk mencetak Pebisnis, padahal wirausahawan (enterpreneur) kita masih 2% dibanding jumlah penduduk, ini jauh lebih kecil, kenapa? karena itu tadi mindset orang masih cenderung pragmatis,” jelas anggota DPP PKS ini.

Sementara itu, Caleg PDIP Dapil 1 Kota Palopo, Edy H Maiseng menantang anak muda untuk membuat terobosan dan selalu memandang jauh ke depan alias visioner.

Mengutip buku Rhenald Kasali, Edy dalam Disruption, kita punya 3 faktor untuk sukses berbisnis. Selain mengubah mindset dan perilaku ikut-ikutan, wirausahawan utamanya UMKM harus menjadikan tantangan sebagai peluang dan harapan serta tidak terpaku pada aspek modal semata.

“Disruption pada dasarnya adalah perubahan. Perubahan semacam inilah yang membuat para petahana bisnis (baca: pemain lama) bak kebakaran jenggot. Mereka tak tahu cara menanggapinya. Itu karena mindset mereka, cara-cara berpikir mereka, masih memakai pola-pola atau dengan cara-cara lama, cara-cara yang konvensional. Padahal, perubahan yang tengah terjadi tidak konvensional. Perubahan semacam itu membuat segala sesuatu yang semula berjalan dengan normal tiba-tiba harus berubah dan berhenti mendadak akibat hadirnya sesuatu yang baru. Di sini, yang dimaksud sebagai sesuatu yang baru bisa banyak hal: teknologi baru, proses bisnis yang baru, para pemain baru, aplikasi yang baru, model bisnis yang baru, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut. Sudah banyak contoh revolusi bisnis yang terjadi, kita lihat Taxi Blue Bird contohnya tergeser oleh bisnis Taxi dan Ojek Online, sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya,” ulasnya.(*)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top